Bogor, 14 Februari 2026 — Di tengah tingginya alih fungsi lahan pertanian dan kebutuhan menjaga ketahanan pangan daerah, Ketua DPW PKS Jawa Barat yang juga Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan, menilai bahwa kekuatan sektor pangan harus dibangun dengan pendekatan regenerasi dan modernisasi pengelolaan.
Hal tersebut disampaikannya dalam rangkaian Pasar Tani PKS yang digelar di Kabupaten Bogor, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan tenant dari kelompok tani, peternak, dan nelayan binaan kader yang memasarkan langsung produk mereka kepada masyarakat. Presiden PKS Almuzzammil Yusuf dan Ketua DPP Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan Riyono Caping turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Sebagai informasi, berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, mayoritas petani di Indonesia berusia di atas 45 tahun, dengan persentase mencapai lebih dari 60 persen. Kelompok usia 43–58 tahun mendominasi, sementara petani muda berusia di bawah 35 tahun hanya berkisar 8–10 persen. Kondisi ini menunjukkan tantangan serius dalam hal regenerasi pelaku sektor pertanian.
Di sisi lain, Jawa Barat termasuk tiga besar provinsi dengan produksi padi nasional, dengan capaian sekitar 9 juta ton gabah kering giling per tahun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, produksi yang tinggi tersebut juga menghadapi tekanan akibat pesatnya perkembangan kawasan industri dan permukiman di sejumlah wilayah seperti Bekasi, Karawang, dan Subang yang dikenal sebagai koridor industri nasional. Ekspansi ini berdampak pada berkurangnya lahan pertanian produktif di wilayah penyangga.

Sehubungan dengan kondisi tersebut, Abah Iwan menegaskan bahwa tantangan sektor pangan hari ini bukan hanya soal angka produksi, tetapi kesinambungan sistem dan sumber daya manusianya.
“Pertanian jangan hanya dilihat dari sawahnya. Ini soal hulu sampai hilir. Dari produksi, pengolahan, sampai pemasaran digital. Kalau anak muda masuk dan mengelolanya dengan cara modern, nilainya bisa jauh lebih besar,” ujarnya.
Ia menilai bahwa sektor pangan harus dikelola sebagai satu ekosistem yang utuh dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Anak muda jangan hanya jadi penonton. Potensi Jawa Barat besar. Tinggal bagaimana kita kelola dengan serius dan terintegrasi,” katanya.
Selain itu, ia kembali mengingatkan pentingnya perlindungan lahan produktif agar tidak terus beralih fungsi menjadi kawasan industri atau bangunan.
“Kalau lahan produktif terus berkurang, dampaknya bukan hanya pada produksi, tetapi pada ketahanan pangan jangka panjang dan keseimbangan lingkungan,” tegasnya.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peluncuran Sekolah Tani Ternak dan Nelayan oleh DPW PKS Jawa Barat yang diisi dengan pelatihan Urban Farming bertema Pangan dari Pekarangan serta pelatihan bisnis kopi.
Menutup pernyataannya, Abah Iwan mengajak generasi muda untuk melihat sektor pangan sebagai ruang masa depan.
“Wahai pemuda yang rebahan, hudang bertani,” pungkasnya.
DPC PKS Kec. Mustikajaya Solid. Melayani. Raih Kemenangan.