Bandung — Di balik ketangguhan seorang ibu, tersimpan kerja panjang yang kerap tak terlihat. Banyak perempuan hari ini memikul peran berlapis—sebagai pengasuh, pendidik pertama, sekaligus penopang ekonomi keluarga—namun masih menghadapi keterbatasan akses, perlindungan, dan ruang dukungan yang memadai.
“Hari Ibu seharusnya tidak berhenti pada ucapan selamat, tetapi menjadi momen untuk melihat lebih jujur beban dan peran nyata perempuan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BIPEKA) DPW PKS Jawa Barat, Sari Sundari, saat peringatan Hari Ibu, di Bandung pada Senin (22/12/2025).
Menurut Sari, banyak perempuan—khususnya para ibu—hari ini memikul peran berlapis: mengurus keluarga, menjaga ketahanan rumah tangga, sekaligus menopang ekonomi. Namun, kerja-kerja tersebut kerap tidak terlihat dan jarang mendapatkan perhatian yang layak dalam kebijakan maupun ruang publik.
Kondisi yang disoroti BIPEKA ini bukan tanpa dasar. Data nasional menunjukkan bahwa jutaan perempuan Indonesia keluar dari dunia kerja setelah menikah atau memiliki anak, bukan karena kurang kompeten, tetapi karena sistem sosial dan lingkungan kerja belum ramah terhadap peran pengasuhan. Di saat yang sama, jumlah perempuan kepala keluarga terus meningkat, banyak di antaranya berada dalam kondisi ekonomi rentan.
Data dari Kompas menunjukkan bahwa banyak perempuan di Indonesia keluar dari dunia kerja setelah menikah dan memiliki anak karena mereka harus menanggung peran ganda sebagai pekerja dan pengurus rumah tangga.
Berdasarkan data tersebut, sekitar 2,9 juta perempuan berhenti bekerja setelah menikah pada 2022, dan 35 persen berhenti karena mengurus rumah tangga, menunjukkan tantangan keseimbangan kerja-keluarga yang masih dihadapi perempuan pekerja.
Selain itu, fenomena perempuan sebagai kepala keluarga juga bukan hal unik. Menurut data BPS, sekitar 12,72 persen rumah tangga di Indonesia dipimpin oleh perempuan, dan sekitar 40 persen di antaranya tidak bekerja, membuka risiko kerentanan ekonomi yang tinggi.
Berdasarkan data dari World Bank, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja di Indonesia juga masih relatif rendah dibandingkan standar regional, di mana sekitar setengah saja perempuan usia kerja yang ikut sebagai bagian dari angkatan kerja.
Di lapangan, tantangan itu semakin berat bagi ibu tunggal, ibu dengan anak berkebutuhan khusus, serta perempuan yang aktif dalam komunitas sosial seperti PKK—mereka bekerja tanpa jam kerja pasti, tanpa jaminan, dan sering kali tanpa pengakuan.
“Inilah realitas yang ingin kami angkat di Hari Ibu. Bahwa ketangguhan perempuan bukan slogan, tapi kenyataan hidup yang mereka jalani setiap hari,” ujar Sari.
Hari Ibu sebagai Ruang Empati dan Keberpihakan
Berangkat dari kesadaran tersebut, peringatan Hari Ibu yang digelar BIPEKA PKS Jawa Barat diarahkan sebagai ruang empati dan keberpihakan sosial. Sejumlah kegiatan dilakukan untuk menyapa langsung perempuan dengan tantangan kehidupan yang nyata—mulai dari ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus, hingga ibu tunggal yang menjadi tulang punggung keluarga.
Sari menegaskan, pendekatan ini penting agar peringatan Hari Ibu tidak terjebak dalam simbolisme, tetapi benar-benar menghadirkan rasa dihargai bagi perempuan yang selama ini bekerja dalam sunyi.
“Kami ingin para ibu tahu bahwa mereka tidak sendirian. Ada ruang politik dan sosial yang berpihak, yang melihat mereka bukan sebagai objek bantuan, tetapi sebagai subjek ketahanan keluarga dan masyarakat,” katanya.
Untuk memperluas jangkauan manfaat, BIPEKA DPW PKS Jawa Barat berkolaborasi dengan sejumlah bidang di internal DPW, di antaranya Bidang Kaderisasi Anggota Partai, Bidang Pembinaan Masyarakat Rentan dan Disabilitas, serta Bidang Pendidikan dan Kesehatan. Kegiatan ini juga melibatkan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Siti Muntamah, yang turut menyapa langsung para ibu kepala keluarga.
Siti Muntamah menyampaikan bahwa perhatian kepada para ibu—terutama yang memikul tanggung jawab keluarga seorang diri—adalah bentuk pengakuan atas peran besar yang sering luput dari sorotan.
“Perjuangan mereka luar biasa. Semoga perhatian dan kepedulian ini bisa menjadi penguat dan penyemangat,” ujarnya.
Melalui peringatan Hari Ibu ini, PKS Jawa Barat ingin mengajak publik melihat perempuan bukan hanya dalam bingkai perayaan tahunan, tetapi sebagai aktor utama dalam ketahanan keluarga dan masyarakat. Ketika perempuan diperhatikan, didukung, dan dihargai, maka keluarga—sebagai fondasi sosial—akan tumbuh lebih kuat.
Hari Ibu, dengan demikian, menjadi pengingat bahwa keberpihakan kepada perempuan adalah kerja sepanjang tahun, bukan sekadar satu hari dalam kalender.
DPC PKS Kec. Mustikajaya Solid. Melayani. Raih Kemenangan.