Bandung — Ada kalimat yang tidak pernah keluar dari mulut laki-laki, tapi justru mampu mengubah tatanan kehidupan. Kalimat itu pendek, familiar, dan hampir semua perempuan pernah mengucapkannya: “Jangan bilang siapa-siapa.” Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Iwan Suryawan, menyebut kalimat itu sebagai bukti nyata betapa dahsyatnya kekuatan komunikasi perempuan — yang jika tidak dikelola dengan baik, bisa mengubah yang damai menjadi pertempuran.
“Kalimat sesederhana ‘jangan bilang siapa-siapa’ bisa jadi pergerakan masif. Kalau udah bilang jangan bilang siapa-siapa, pasti bocor,” ujar Abah Iwan Suryawan, dalam acara Saresehan Hari Kartini pada Rabu (29/4/2026).
Namun di balik candaan itu, ada pesan serius yang Iwan Suryawan ingin sampaikan: ketahanan keluarga dimulai dari komunikasi yang baik. Bukan komunikasi yang penuh drama atau prasangka — melainkan komunikasi yang bilhikmah, penuh kebijaksanaan, sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Hujurat ayat 13.
“Mari kita bangun komunikasi yang baik dengan anggota keluarga. Jangan berprasangka. Itu fondasinya,” tegasnya. Bagi pria yang akrab disapa Abah Iwan ini, komunikasi bukan sekadar urusan kata-kata — ia adalah infrastruktur ketahanan keluarga yang paling mendasar.
Abah Iwan tidak pelit dalam memuji peran perempuan. Menurutnya, hampir seluruh amal sholeh dalam keseharian — dari subuh hingga tidur malam — selalu ada perempuan di baliknya. Perempuan adalah pelopor, penggerak, dan penjaga ritme kehidupan keluarga.
“Lawan emak-emak mah moal bisa ngelehkeun,” selorohnya, yang kembali memancing tawa. Tapi maksudnya jelas: kekuatan perempuan itu nyata, besar, dan tidak bisa diabaikan. Justru karena itulah, energi luar biasa ini harus diarahkan menjadi kekuatan positif — membangun, bukan meruntuhkan.
Sebagai Wakil Ketua DPRD Jawa Barat sekaligus Ketua DPW PKS Jawa Barat, Abah Iwan tidak hanya berbicara soal nilai — ia juga berbicara soal kebijakan nyata. Di DPRD, ia mendorong lahirnya Peraturan Daerah tentang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak sebagai payung hukum yang menjawab persoalan nyata di lapangan — mulai dari isu tenaga kerja wanita hingga perempuan yang harus merangkap peran sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja.
“Perempuan ke depan harus berdaya — bukan hanya ikut serta, tapi mengendalikan dan menjadi bagian dari pembangunan,” ujarnya. Ia juga menyebut program pelatihan vokasi tata boga dan tata rias yang disambungkan dengan digital marketing sebagai contoh konkret bagaimana negara hadir untuk perempuan Jawa Barat.
Di penghujung sambutannya, Abah Iwan menutup dengan pernyataan yang justru paling mengena — bukan instruksi, bukan perintah, tapi sebuah permohonan. “
Tolong beri kami nasihat, agar kami bisa berkontribusi dengan benar,“ ucapnya kepada para perempuan yang hadir. Kalimat itu sederhana — tapi maknanya jauh lebih dalam dari sekadar basa-basi. Ia adalah pengakuan bahwa perempuan bukan objek kebijakan, melainkan mitra yang suaranya perlu didengar dan dijalankan.
DPC PKS Kec. Mustikajaya Solid. Melayani. Raih Kemenangan.