Cianjur — Dengan hampir 52 juta jiwa penduduk, Jawa Barat masih sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar provinsi. Di saat yang sama, inflasi pangan terus bergerak dan lahan pertanian terus menyusut. Menjawab tekanan itu, Bidang Pertanian, Peternakan, dan Nelayan (BPPN) DPW PKS Jawa Barat membekali utusan dari 13 kota dan kabupaten dengan pelatihan budidaya ikan langsung di waduk Cirata, Cianjur.
“Kalau bicara ketahanan pangan, tidak bisa hanya di kantor-kantor. Harus turun ke lapangan,” ujar Budiwanto, Ketua Bidang BPPN DPW PKS Jawa Barat sekaligus Ketua Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat di Cianjur pada Ahad (19/ 7/ 2026).
BPS mencatat inflasi tahunan Jawa Barat pada Mei 2026 mencapai 3,07 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai kontributor terbesar.
Di sisi produksi, luas sawah terus menyusut puluhan ribu hektar dalam lima tahun terakhir, sementara produktivitas gabah rata-rata hanya 5,3 ton per hektar — jauh di bawah potensi lebih dari 9 ton per hektar.
Di tengah kondisi ini, budidaya ikan air tawar menjadi alternatif yang paling aksesibel: tidak butuh lahan luas, modal terjangkau, siklus panen pendek, dan sumber air tersedia.
Budiwanto membuka pelatihan dengan cermin dari masyarakat adat Sunda yang ketahanan pangannya tetap kokoh bukan karena kaya — tapi karena berpegang pada satu prinsip sederhana.
“Mari kita belajar dari budaya yang ada di tengah-tengah kita, yakni makan apa yang kita tanam, dan menanam apa yang kita makan, bahkan tidak punya uang pun, mereka bisa makan. Pertahankan lahan turun-temurun, menyimpan padi di leuit, dan baru menjual sisanya,” ujarnya.
Budiwanto bukan sekadar bicara. Sebelum dilantik sebagai ketua BPPN DPW PKS Jabar, ia sudah lebih dulu mempraktikkan sendiri — memelihara gurame dan patin di rumahnya tanpa pelet, dengan biaya rendah namun pertumbuhan yang baik.
Pemilihan Waduk Cirata sebagai lokasi praktik bukan tanpa alasan. Dengan luas lebih dari 6.000 hektar, Cirata adalah salah satu aset perikanan air tawar terbesar Jawa Barat yang potensinya belum sepenuhnya dimanfaatkan. Di tengah beredarnya kekhawatiran tentang keamanan ikan dari kawasan ini, Budiwanto angkat bicara dengan tegas.
“Saya marah ketika Cirata difitnah. Ini aset kita. Potensinya luar biasa dan harus kita jaga, bukan kita tinggalkan,” tegasnya.
Pelatihan ini tidak dirancang berhenti di ruang kelas. Setiap DPD yang mengikuti diharapkan segera memiliki unit usaha budidaya ikan sebagai titik awal — yang kemudian bisa direplikasi di komunitas yang lebih luas.
“Output-nya belajar dagang dulu. Tiap BPPN di DPD punya usaha dulu. Kita jualan dulu. Ada lapak, kita jualan, siapkan tempatnya — ikannya akan disupply,”* pungkas Budiwanto.
Agenda pelatihan dihelat Aula Kantor Desa Bobojong, Kec. Cimande, Kab. Cianjur (materi) — dilanjutkan Waduk Cirata (praktik lapangan) dengan peserta dari unsur urusan BPPN PKS dari 13 kota dan kabupaten se-Jawa Barat
Pada acara ini juga turut hadir: RK Dadan Suryanegara — Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Dapil Cianjur, Ketua DPD PKS Kabupaten Cianjur Asep Riyatman, Sekretaris Umum DPD PKS Kabupaten Cianjur Asep Guntara, dan Perwakilan Dinas Koperasi Kabupaten Cianjur Rani.
DPC PKS Kec. Mustikajaya Solid. Melayani. Raih Kemenangan.