Bandung — “Mau usaha, tapi modalnya mana?” Pertanyaan itu sudah terlalu sering menjadi alasan untuk tidak memulai. Padahal, menurut mereka yang sudah melewati jatuh bangun di dunia bisnis, pertanyaan itulah yang justru menjadi bagian dari masalahnya. Uang memang dibutuhkan dalam bisnis. Namun, ada tiga modal yang jauh lebih menentukan: keberanian, jaringan, dan integritas.
“Keberanian untuk melangkah meski belum tahu persis ke mana, jaringan yang membuka pintu-pintu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, dan integritas yang membangun kepercayaan jangka panjang dari pelanggan, mitra, dan komunitas. Kalau sudah punya tiga ini — duit datang,“ terang Asep Mulyadi, Ketua Bidang Pemberdayaan UMKM dan Ekonomi Kreatif (Boemkraf) DPW PKS Jawa Barat — yang akrab disapa Kang Asmul — dalam Siniar Kopi Kerja, Ngobrol Produktif yang disiarkan melalui PKS TV Jabar.
Lalu mengapa banyak program bantuan modal UMKM tidak menghasilkan wirausaha yang berkelanjutan? Kang Asmul punya jawabannya yang lugas.
“Orang dikasih modal duit, kalau tidak punya integritas, habis juga duitnya. Uang itu ibarat bahan bakar — tapi bahan bakar tidak berguna jika mesinnya belum siap. Memberikan modal uang kepada seseorang yang belum memiliki tiga fondasi itu hanya mempercepat kegagalan, bukan mencegahnya,” ujar Kang Asmul yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Bandung.
Bagi yang sudah memulai pun, perjalanan tidak selalu lurus. Kang Asmul mengingatkan bahwa kegagalan sejati bukan terjadi di langkah pertama — tapi ketika seseorang memilih untuk berhenti.
“Kita tidak tahu angka keberhasilan itu ada di langkah ke berapa. Seringkali teman-teman sudah di langkah kesembilan, langkah ke-10 tuh berhasil — tapi malah berbalik. Ketika belum berhenti, belum gagal,” katanya.
Ada dua jebakan yang menurutnya paling sering membunuh bisnis pelan-pelan. Yang pertama adalah inkonsistensi menjaga kualitas produk.
“produk yang enak di batch pertama tapi berubah di batch kedua adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan pelanggan yang dibangun dengan susah payah,” tegas sang pengusaha di bidang fesyen ini.
Yang kedua adalah mengubah gaya hidup sebelum bisnis benar-benar stabil.
“Hati-hati jangan suka ngerubah gaya. Baru dapat duit sedikit gayanya sudah petenteng-petenteng. Akhirnya menghambur-hamburkan uang,” tegasnya.
Prinsip yang ia pegang sendiri sederhana namun disiplin: 80 persen diputar kembali ke bisnis, 20 persen dinikmati — dan bukan sebaliknya.
Modal terbesar yang dibutuhkan untuk memulai ada di dalam diri — bukan di rekening. Ketika tiga modal itu sudah dimiliki, langkah berikutnya adalah menemukan ekosistem yang tepat untuk bertumbuh.
Boemkraf DPW PKS Jawa Barat hadir dengan dua program yang berjalan paralel: inkubator bisnis bagi yang sudah punya produk dan jasa, dan akademi affiliate marketing bagi yang belum punya produk tapi siap menghasilkan — keduanya terbuka untuk masyarakat umum, bukan hanya kader PKS.
Simak diskusi lengkapnya dalam Siniar Kopi Kerja — Ngobrol Produktif di PKS TV Jabar.
DPC PKS Kec. Mustikajaya Solid. Melayani. Raih Kemenangan.